Dulu, saya orang yang gabisa lepas dari menulis. Semua hal yang
saya alami, yang saya rasakan dan saya pikirkan semua saya tulis. Apapun,
bahkan hal-hal kecil yang menurut orang lain tidak perlu ditulis bisa jadi
bahan untuk saya tulis. Banyak teman bertanya kenapa menulis? Entahlah, tapi
yang jelas menulis itu menyenangkan. Saya merasa bahwa menulis adalah satu
satunya cara dimana saya bisa berekpresi dengan jujur, No compulsion. Dan itu
menenangkan. Kenyataan bahwa tidak semua teman bisa menjadi tempat curhat yang
baik membuat saya berfikir untuk menciptakan sesuatu yang menyenangkan. Dan itu
berhasil, menulis membuat saya memiliki dunia saya sendiri, dunia yang
unobstructed, dunia yang bebas.
Menulis berarti belajar. Belajar untuk jujur terhadap rasa, belajar
untuk berani mengungkap dan menceritakan segala peristiwa, belajar untuk peka
terhadap segala hal yang terjadi di sekeliling kita. Menulis tidak hanya
membuat saya bebas berekspresi, ia juga memberi ruang dimana saya bisa belajar banyak
hal. Dari menulis, saya belajar tentang keberanian, kejujuran, kepekaan.
Sebagian mungkin menulis agar tulisannya dapat dimuat dan
menghasilkan pundi –pundi rupiah. Tapi saya lebih memaknainya sebagai bagian
dari warisan sejarah. Bahwa menulis adalah upaya mengikat apa yang telah kita
lalui ke dalam kertas yang suatu saat entah kapan bisa dibaca ulang dan
dikenang kembali. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, seperti kata
Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dalam sejarah” .
Ciputat,
23 Februari 2016


0 komentar:
Posting Komentar